M.Noorchamid

M NUR CHAMID< nama simpangan lain darfi Sholikul hadi hadi , pernah mengajar di SMK prmata nusantara Gabus tahun 2011-2013, mengjar di SMP ...

Selengkapnya
Misteri Hilangya Thukul @2

Misteri Hilangya Thukul @2

Dalam "Esai Pengantar" buku kumpulan puisi Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, Munir menyatakan bahwa kalimat pendek, "Hanya ada satu kata, 'Lawan!'" jauh lebih dikenal daripada Wiji Thukul sebagai seorang yang telah menorehkan puisi perlawanan. Dia telah berhasil menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan. Lawan , Kalimat itu telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme.

Kalimat itu telah menunjukkan pilihan hidup Wiji Thukul untuk bergabung dengan setiap barisan perlawanan atas rezim militeristik Orde Baru. Pilihan itu bukan pilihan yang mudah. Dia telah menbus mahal mahal atas lontarak kata –kata demokrasi di rezim Orde baru , sama sama dengan grtakan fordem , PRD yangsaat itu dicurigai pemerintah bahkan dibasmi.

. Dia telah menjadi korban praktik penghilangan orang. Thukul benar-benar sosok militan yang cukup cerdik untuk menggerakkan dirinya dan anggota masyarakat lain agar peduli akan masa depan. Di balik ketegarannya itu, Thukul adalah pribadi yang penuh misteri, seperti banyaknya lompatan misteri di balik puisi-puisinya. Tentang "proses kreatif", Thukul menyatakan dalam "Pengantar" buku Aku Ingin Jadi Peluru halaman xiv bahwa penyair haruslah berjiwa bebas dan aktif'. Bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya. Oleh sebab itu, belajar terus-menerus mutlak dilakukan. Memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran akan sangat menunjang kebebasan berkarya dan fanatik gaya atau tema dapat dihindarkan sehingga proses kreatif tidak terganggu.

Belajar tidak harus di bangku sekolah atau di kampus, tetapi bisa di mana-mana dan kapan saja: di perpustakaan atau membaca gelagat lingkungan atau apa saja, pokoknya yang bisa mempertajam kepekaan penyair terhadap gerak hidup dirinya dan hidup di luarnya. Dalam Pengantar buku Aku Ingin Jadi Peluru, Redaksi Indonesia Tera mengungkapkan bahwa Wiji Thukul muncul dalam sebuah ruang yang khusus di tengah wacana kekerasan yang menekannya selama puluhan tahun.

Dia adalah salah seorang penyair yang gigih, baik dalam memperjuangkan gagasannya, maupun dalam memperjuangkan hidup dan kebenaran-kebenaran yang diyakininya. Dia juga gigih dalam membela mereka yang selalu berhadapan dengan kesewenang-wenangan kekuasaan dengan caranya. Dalam risiko apa pun, ia tidak pernah surut dengan keyakinannya atas apa yang dianggapnya benar dan "harus dibela". Hanya ada satu kata, "Lawan!" teriaknya. D

alam sampul belakang buku tersebut Arief Budiman menyatakan, "Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses yang dinamakan pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitn dan kroni-kroninya , semua sudah menjadi tumbal termasuk orang – orang pintar yang kelihatan pintarnya

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali